Tedhak Siten di RKC

Upacara adat tradisional merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang sarat akan pesan-pesan moral, simbolisasi, dan pengharapan akan masa depan yang baik. Di tengah-tengah hiruk pikuknya kehidupan modern saat ini, menjalani sebuah upacara tradisional selain menjalani ritual dan menyelami artinya, juga menjadi sebuah upaya melestarikan warisan budaya itu sendiri.

Salah satu upacara adat yang baru saja dilaksanakan di RKC adalah upacara adat tradisional Jawa “Tedhak Siten” (tedhak berarti turun, siten berasal dari kata siti yang berarti tanah), yaitu upacara turun tanah pertama kali bagi seorang anak berumur kurang lebih 7 bulan atau tepatnya 7 selapan (selapan = 35 hari). Upacara ini menandai dimulainya perjalanan hidup seorang anak di dunia yang penuh tantangan dan mengingatkan orang tua untuk terus membimbing dan membekalinya dengan keuletan dan kemantapan hati agar sang anak dapat sukses mencapai cita-citanya, mengharumkan nama keluarga, nusa, dan bangsa, dan hidup sesuai dengan tatanan masyarakat di sekitarnya.

Setiap upacara tradisional memiliki ritual tertentu dan biasanya ada beberapa perlengkapan dan sajian yang perlu disiapkan. Untuk upacara Tedhak Siten ini sajian serta maknanya dijelaskan di bawah ini:

  1. Tumpeng Kuat, yaitu tumpeng nasi kuning lengkap dengan sayur mayur dan lauk pauknya, maksudnya agar anak tumbuh sehat dan kuat.
  2. Bubur merah-putih, melambangkan penjagaan pada anak batita (bawah tiga tahun) yang masih suci. Bubur merah-putih, atau jenang blowok dalam bahasa Jawa, juga merupakan simbol kehidupan yang tidak selalu berjalan mulus, kadang ada hambatan dan kita terperosok (keblowok dalam bahasa Jawa).
  3. Jajan pasar tujuh macam, maksudnya agar kelak sang anak mengenal dan mengapresiasi bermacam ragam jenis makanan.
  4. Satu sisir pisang Raja. Pisang digunakan disini karena seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan, baik akar, daun, pelepah, jantung, dan terutama buahnya. Karakter tanaman / buah pisang yang tumbuh bergerombol juga melambangkan sesuatu yang mudah beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Dan mengapa pisang Raja yang dipilih? Karena “raja” selalu diasosiasikan dengan kedudukan yang tertinggi serta terhormat. Karakter-karakter tersebutlah yang diharapkan tumbuh pada diri sang anak di kemudian hari.
  5. Bunga setaman menandai harapan agar sang anak selalu harum namanya dan mampu menjaga nama baik keluarga.

Ritual dan perlengkapan upacara dijelaskan di bawah ini:

  1. Upacara dimulai dengan kedua orang tua membimbing sang anak menapakkan kakinya pada juwadah ketan tujuh warna satu persatu. Juwadah merupakan campuran beras ketan dan kelapa yang dibumbui garam dan kemudian dikukus, dihaluskan, diberi warna, lalu dicetak. Ini melambangkan berbagai pengalaman hidup dan tantangan yang bakal dihadapi oleh sang anak dan harapan bahwa ia akan dapat menjalaninya dengan ulet dan kuat.
  2. Setelah itu sang anak dibimbing mendaki dan menuruni anak tangga tebu hitam (tebu wulung) yang juga memiliki tujuh anak tangga. Tebu hitam melambangkan pendirian yang teguh dan kemantapan hati (anteping kalbu dalam bahasa Jawa). Menaiki tebu hitam menggambarkan kemantapan hati dalam menjalani tahap-tahap perjuangan hidup dalam mencapai cita-cita yang luhur. Ruas-ruas yang terdapat pada batang tebu juga menggambarkan kehidupan yang bertahap dimulai dari janin sampai akhir hayat manusia.
  3. Setelah menuruni tangga tebu, sang anak dibimbing menginjakkan kakinya pada juwadah ketan putih yang menggambarkan kesucian.
  4. Lalu kaki sang anak dibersihkan dengan air dalam sebuah bokor berisi air dan bunga setaman (bunga yang dipakai antara lain mawar, melati, dan kenanga) yang melambangkan harapan sang anak akan menjalani hidup yang bersih, suci, sehat jasmani dan rohani, serta diberkati dengan kecukupan dalam hidupnya.
  5. Dan terakhir adalah bagian yang sangat menarik dan mengundang perhatian. Sang anak didudukkan di dalam kurungan ayam tradisional yang telah diisi dengan berbagai barang yang bermanfaat yang menyimbolkan pilihan jalan hidup. Contohnya, tasbih / rosario, perhiasan emas, buku dan alat tulis, alat musik, kamera, kalkulator, alat masak, alat kedokteran, alat olahraga, perlengkapan berdandan, dan lain-lain. Benda-benda yang pertama dipilih oleh sang anak biasanya akan dihubung-hubungkan dengan profesi dan jalan hidup sang anak di masa datang. Kurungan ayam disini menggambarkan sang anak memasuki kehidupan dunia nyata dan mampu hidup di dalam tatanan dan adat istiadat masyarakat di sekitarnya. Kurungan ayam juga seperti dekapan dan pengawasan orang tua, dimana pada usia sang anak sekarang, dekapan, bimbingan serta doa orang tua sangatlah penting dalam membentuk kepribadiannya. Dengan demikian diharapkan ia kelak menjadi anak yang berguna dan berbakti pada orang tua, nusa dan bangsa, pandai, dan saleh.

Dengan demikian selesailah upacara adat Jawa, Tedhak Siten. Para tamu dan kerabat kemudian beramah tamah dan dijamu dengan sajian jajan pasar, tumpeng kuat, disamping sajian lainnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s