Beaten on an off-beaten track: Dari RKC ke Moko Daweung

Lelah dengan kemacetan kota Bandung pada akhir minggu? Rindu pada udara segar dan suasana kampung yang damai? Atau hanya bosan dan cari tempat baru untuk chill out? Grab that car key and head out to the mountain. Go to the peak of east Bandung. Take a break in the sky. Look down as if you’re a guardian angel.

Warung Daweung, atau lebih dikenal dengan Moko Daweung, terletak di puncak Bandung Timur. Dapat dicapai dari Jl. Pahlawan, Jl. Padasuka, Saung Angklung Mang Udjo, dan bahkan dari arah Bandung Utara seperti Dago Atas. Untuk mengetahui arah jalannya dari kota Bandung, searchMoko Daweung” di internet. Ada beberapa rekan blogger yang menuliskan routenya dengan cukup detail.

Mengapa Moko (begitu kami menyebutnya) begitu spesial. Bagi kami bukan karena minumannya dan terlebih bukan karena makanannya. Perjalanannya sendiri merupakan pengalaman yang menarik dan selalu refreshing. Jalanan yang sempit dan jauh dari rata, kadang harus minggir karena berpapasan dengan truk. Kadang tebing curam di samping atau dinding tanah merah yang crumbly menghimpit kita. Pada suatu perbatasan kita harus membayar retribusi jalan sebesar Rp 1000, kalau tidak salah. Disebut track off-road, tidak juga. Sudah bangga nyetir mobil off road dengan rodanya yang besar, eh tau-tau ada motor bebek nyusul dan mendaki tanpa masalah.

Encounter dengan orang-orang lokalnya pun menggelitik. Tukang rumput yang duduk kelelahan di pinggir jalan, bocah bermain dengan batang kayu seakan-akan tongkat golf (ada lapangan golf baru dibuka di dekat rumahnya barangkali), anak-anak duduk-duduk di pinggir jalan menunggu waktu sembahyang, gapura-gapura 17-Agustus-an yang belum di-update tahunnya.

Ketika sampai di Warung Daweung, tapestry ladang-ladang melambai dari kejauhan di bawah sana. Masuk lebih jauh ke pelataran di awan daweung saya teringat pada dataran tinggi reruntuhan Maya di South America (yang saya lihat foto-fotonya di majalah National Geographic). Saya merasa heran menyadari bahwa saya mungkin sedang berdiri di sebuah tepi danau prasejarah yang sangat luas. Dan Bandung hanyalah dasar dari sebuah danau. Dan suatu ketika letusan gunung berapi atau gempa bumi membuat retak dasar danau itu. Dan air di danau itu semua mengalir keluar. Dan sekarang, lihatlah, kota Bandung dengan kilauannya dikelilingi ladang-ladang hijau. Betapa bizarre rasanya.

Daftar Menu Warung Daweung yang heboh membangunkan saya dari khayalan tentang being in Maya ruins dan legenda kota Bandung. Coffee, Hot Drink, Hot Kuwah, Hot Goreng, Hot Snack, Minuman Lunak (terjemahan bebas dari soft drink) adalah kategori menunya. Dari teh panas Rp 2.000 sampai yang termahal thonk seng Rp 15.000 –Catatan: Ini harga tahun 2007.

Berhubung sore itu panas udaranya, saya memilih minuman lunak saja. ~

RKC terletak sekitar 1/3 perjalanan ke Moko Daweung dari arah Jl. Pahlawan, Bandung.

Silakan cek Legenda dan Sejarah kota Bandung di situs Bandung Tourism.

One Comment Add yours

  1. Edu Pareira mengatakan:

    Pake sepeda gunung juga menantang tuh tanjakannya buat pemula. Sampai atas di Moko / warung Daweung, kebayar deh capenya ngeboseh dari bawah. Kalo liat ke kanan ke arah barat, Kota Lembang kayaknya agak di bawah dikit daripada Moko. Periksa aja pake GPS hehehe. Satu lagi, ati-ati kalo ujan, bisa kesamber gledek / petir . Hatur Nuhun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s